Tentang “Ikhlas” dari Seorang Kawan Bapak Khalid Mustafha (SEAMOLEC)

Awal bulan Januari tahun 2007, di ibukota negara Republik Indonesia,
didalam sebuah ruangan yang cukup sejuk, dan dikelilingi pernik-pernik
eksotis yang menggambarkan keragaman budaya Indonesia, diatas sofa
empuk, saya duduk dengan hati yang cukup berdebar…

Di depan saya, pada sofa yang sama, duduk seorang dengan kemeja putih
memakai dasi yang menatap saya dengan gaya yang cukup santai.

Sudah cukup lama saya berada di ruang tersebut, membicarakan berbagai
hal yang berkaitan dengan tawaran beliau untuk membantu proses
pekerjaan yang saat ini telah dan akan dilaksanakan di Biro PKLN.

Tawaran ini merupakan tawaran yang ketiga kalinya dan merupakan sebuah
pembicaraan yang lebih serius dibandingkan dengan 2 tawaran sebelumnya.

Setelah beberapa diskusi yang cukup lama dan diselingi dengan
cerita-cerita nostalgila, eh, nostalgia, beliau kemudia berkata: “Lid,
ada 1 hal yang harus kamu pegang dalam melaksanakan setiap kegiatan di
dunia ini..”

“Apa itu pak ?”

“Bekerja dengan ikhlas” Jawab beliau sambil tersenyum…

Dalam hati sih saya mengatakan, “wah, kalau ini semua sudah tahu…”
Namun beliau kemudian melanjutkan.

“Orang yang berkerja dengan ikhlas itu akan memperoleh 2 kebahagiaan
apabila pekerjaannya menuai hasil yang baik, sedangkan orang yang
bekerja dengan pamrih hanya akan memperoleh 1 kebahagiaan apabila
pekerjaannya menuai hasil.”

Wah, ini istilah baru lagi nih.

Saya kemudian bertanya kembali, “Kok bisa begitu pak ?”

Dengan cukup santai beliau kemudian menjelaskan, “Orang yang bekerja
dengan mengharapkan pamrih akan bekerja sebaik mungkin dengan tujuan
mengharapkan sesuatu. Apabila pekerjaannya berhasil, maka dia hanya
bahagia apabila yang diharapkan terpenuhi. Itu adalah 1 kebahagiaan.
Namun, apabila pekerjaannya berhasil tapi sesuatu yang diinginkan itu
tidak diperoleh atau tidak diberikan, atau imbalan dari pekerjaan
tersebut tidak sesuai dengan yang dia harapkan, maka dalam hatinya
tidak akan ada kebahagiaan yang tersisa. Yang dia pikirkan hanyalan
kegagalan memperoleh sesuatu yang dia harapkan itu.”

“Terus, bagaimana dengan orang yang bekerja dengan ikhlas ?”

“Nah, orang yang bekerja dengan ikhlas, karena tidak mengharapkan
apapun, apabila berkerja dan pekerjaannya menuai hasil, maka akan
memperoleh 1 kebahagiaan. Dan apabila sebagai efek dari pekerjaan itu
dia memperoleh sesuatu imbalan, maka dia akan memperoleh 2
kebahagiaan. Yaitu kebahagiaan karena pekerjaan berhasil dan
kebahagiaan dan rasa syukur karena memperoleh imbalan. Sedangkan
apabila dia tidak memperoleh apa-apa, hatinya tetap bahagia, karena
sejak awal memang tidak mengharapkan apapun, hasil pekerjaannya tidak
akan dirusak dengan penyesalan dan harapan yang tidak terpenuhi.”

Akhirnya saya pun paham dengan maksud ucapan beliau….

Kemudian, dengan serius beliau berkata, “Lid, usahakan dalam berbuat
sesuatu, lakukan dengan ikhlas, rejeki tidak akan lari kemana-mana,
Tuhan sudah menakdirkan rejeki bagi setiap ummatnya, jadi mari berbuat
yang terbaik dalam setiap gerak dan langkah…”

Pesan itulah yang terus menggema dalam diri saya hingga saat ini. Dan
berusaha saya amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun amat
berat, karena sifat dasar manusia adalah menginginkan sesuatu sebagai
konsekwensi nafsu yang tertanam, tapi dengan wejangan seperti ini saya
yakin akan bisa menerapkannya.

Terima kasih pak Gatot, diskusi yang cukup singkat pada saat itu, tapi
serasa sudah mengikuti kuliah 4 SKS :)

http://khalidmustaf a.wordpress. com/2008/ 01/16/2-kebahagi aan-bagi- yang-bekerja- dengan-ikhlas/

Tinggalkan Balasan